Selasa, 12 Juni 2012
Persembahanku
Tak terasa waktu berjalan terus...28 taun sudah kujalani tugasku sebagai pendidik sejak tahun 1984 aku mulai menetap menjadi guru di suatu perguruan swasta. Walau dengan berat hati, akan aku tinggalkan profesi-ku ini nanti tepat pada waktunya, biar generasi penerus akan menggantikanku.
Perjalanku sebagai pendidik penuh dengan suka dan duka bagiku, sebab apa yang sudah aku yakini harus kujalani dengan sebaik-baiknya sesuai dengan profesiku. Bukan hanya mengajar saja, tetapi lebih aku tekankan mendidik generasi penerus bangsa untuk mempersiapkan diri menyambut masa depannya, baik untuk diri sendiri, masyarakat, bangsa dan negara.
Generasi demi generasi tlah berganti, baik para pendidik maupun peserta didik, ternyata berbeda orang dan zaman juga berbeda pula cara berpikirnya. Aku merasakan ada suatu penurunan semangat dan perbedaan persepsi dari pemikiran mereka yang kadang membuatku sesal, sedih, lesu alias tak bergairah lagi. Mengapa....? Ternyata daya pikir mereka sekarang sudah mengarah pada hal-hal yang bersifat instan n materialistik.
Bagaimana mungkin seorang pendidik hanya sekedar datang mengajar untuk memenuhi kewajiban, tanpa memperhatikan lagi unsur-unsur pendidikannya. Bahkan dalam kurikulum sekarang yang berbasis KTSP, yang mempunyai banyak Metode dan Model pembejaran, sering disalahgunakan, baik para pendidik dan para peserta didiknyaa.
Pendidikan adalah suatu proses yang terus menerus dan berkesinambungan bukan sebagai hal yang bersifat instan. Tetapi justru yang terjadi mereka cenderung ke hal-hal yang bersifat instan. Hal ini tidak mungkin, sebab semua yang bersifat instan nantinya akan mudah, terlupakan, dilupakan, bahkan menjadi lupa diri. Mereka umumnya tidak mau berpikir yang sulit-sulit atau njlimet.....
......................................................................... bersambung
Para pserta didik kalau diberi tugas "Home Work", sekarang mayoritas hanya "Copy Paste" di Internet atau kompak semua sama persis dengan temannya, atau malah cuma buat Resume/ringkasan, padahal tugasnya bukan meringkas. Ulangan nyontek usahanya dengan berbagai cara dan menganggap santai atau merasa tak bersalah, tak berdosa, dan tenang sekali.
Maka aku akan bangga bila ada peserta didik yg yang aktif, kreatif, dan rajin, apalagi selalu bersikap sopan santun dan menjaga etika dan kebersihan.
Sebab nilai rapor yang ideal dan seharusnya diambil dari hasil koqnitif, psikomotorik, dan afektif dari para peserta didik, bukan hanya nilai koqnitif saja.
Sebaliknya para pendidik jangan hanya memberi tugas atau mencatat di kelas lalu ditinggal pergi atau malahan Online internetan dalam Facebook, Twitter, dan sebagainya dalam kelas. Demikian pula kalau mengawas Ulangan atau Evaluasi Belajar Semester (EBS), ada juga yang malahan koreksi, membaca majalah atau koran, internetan atau OL yang lain-lain, dan sebagainya, sehingga para peserta didik saling mencontek tidak tahu atau malah dibiarkan. Jadi apa artinya Ulangan atau Evaluasi Belajar Semester kalau pengawasnya seperti itu....??
............................................................................................bersambung
Terus....Pendidikan kita mau dibaa kemana....???
Quo Vadis...??
Langganan:
Postingan (Atom)
